Rangkuman Kajian Sofwat Tafasir Surat Hud rumpun ayat 105-113 Bersama Habib Husain Ibn Alwy Binagil
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Asyrafil Anbiya’i wal Mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Membaca Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan menelusuri keindahan hikmah Ilahi. Ketika kita sampai pada Surah Hud ayat 105 hingga 113, kita dihadapkan pada gambaran yang sangat menggetarkan jiwa mengenai Hari Kiamat (Yaumul Qiyamah)—hari ketika setiap jiwa harus mempertanggungjawabkan segala yang telah diamalkannya di muka bumi.
Hari Pertanggungjawaban: Antara Sengsara dan Bahagia
“Di hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang sengsara (syaqiyy) dan ada yang bahagia (sa‘id).” (QS. Hud: 105)
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Surat Yunus
Pendahuluan: Karakteristik dan Periodisasi Surah Yunus
Al-Qur'an merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan secara berangsur-angsur (tanjil), di mana susunan urutan surah dalam mushaf bersifat tauqifi (ketetapan langsung dari Allah dan Rasul-Nya) dan tidak selalu sejajar dengan kronologi historis turunnya ayat (asbab an-nuzul).
Surah Yunus, yang menempati urutan ke-10 dalam susunan Mushaf Usmani, secara mayoritas dikategorikan sebagai surah Makkiyyah—yakni kelompok surah yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Ciri mendasar dari kelompok surah Makkiyyah adalah fokus pembahasannya yang menitikberatkan pada pengokohan pilar-pilar akidah (ushul ad-din), penanaman keimanan kepada Allah SWT, pembuktian kebenaran risalah kenabian, serta kepastian hari kebangkitan (al-ba'th).
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil
Pendahuluan: Urgensitas Ilmu Munasabah dalam Sistematika Wahyu
Dalam studi Ulumul Qur'an, salah satu cabang ilmu yang amat krusial untuk memahami keutuhan makna al-Qur'an adalah Ilmu Munasabah. Yakni kajian ilmiah mengenai korelasi, keterkaitan, dan keserasian antar-ayat maupun antar-surah.
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At-Taubah 121-122
Sering kali kita membayangkan kebaikan atau perjuangan (jihad) dalam Islam sebagai sesuatu yang amat megah, kolosal, dan sulit dicapai oleh orang biasa. Padahal, jika kita menyelami petunjuk Al-Qur'an—khususnya pada Surah At-Taubah ayat 121–122—Allah justru mengetuk hati kita melalui hal-hal yang begitu dekat dengan keseharian.
Sesuap Nasi yang Menghadirkan Kepedulian Langit
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 121:
“Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 121)
Mengapa perpecahan makin seru dan menjadi-jadi? Sebab sekarang ini setiap kali orang berbeda pendapat itu tidak mengikuti cara ulama’ dulu. Dulu beliau-beliau kalau beda pendapat tidak mencari bolo (pengikut--Jw), ditandangi (dihadapi--Jw) sendiri dan tidak mencari pengikut apalagi dengan cara-cara memfitnah. Imam madzahib dan para kyai beda pendapat tapi dengan tetap menghormat. Pada zaman dahulu banyak gegeran, tapi ‘bar yo bar’ (tidak ada dendam--Jw), tidak mencari teman untuk berseteru. Lha sekarang, gegeran selalu diikuti dengan mencari pengikut dan pendukung, mengajari memfitnah maka tidak heran kalau gegeran itu semakin dalam dan ruwet.
Seorang ulama yang bernama Muqotil bin Sulaiman diundang untuk menghadiri pelantikan seorang penguasa bernama Al-Manshur menjadi Kholifah. Pada saat hari H, Al-Manshur meminta nasehat kepada Muqotil.
Muqotil:
Anda ingin aku memberikan nasehat dengan yang aku lihat sendiri? Atau dengan yang aku dengar?
Bagi santri Nurul Huda, membaca shalawat adalah hal yang biasa, karena Murabbirruh Abah Masduqi semasa hidupnya senantiasa mewasiatkan agar gemar membaca shalawat dan jamaah shalat. Tentu bukan tanpa sebab, ada banyak alasan yang bisa diraih dengan kegemaran membaca shalawat. Sheikh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Tanqih al Qoul al Hatsits menyitir sebuah hadits dan cerita sebagai berikut:
Mengertikah saudara arti kata-kata manaqib? Kata-kata manaqib itu adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang.
Niat itu tempatnya di hati, dan memang seharusnya niat itu dengan hati, akan tetapi saya dengar orang-orang bersembahyang di Masjid, niatnya dengan ucapan Usholli fardlo dzuhri dst. Sahkah itu?
Niat itu memang tempatnya di hati. Kalau hanya ucapan Usholli fardlo dzuhri dan seterusnya saja itu namanya bukan niat.
Maka landasan hukum di dalam Islam itu hanya dua, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mengapa di dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i ada dua masukan sebagai landasan hukum, ijma’ dan qiyas?
Sholat hari raya itu sebaiknya dilaksanakan di masjid kah atau di lapangan?
Sholat hari raya itu dilaksanakan di masjid boleh, di musholla atau di lapanganpun boleh. Tentang mana yang lebih afdlol itu ada tafsil/perinciannya. Kalau masjid setempat sempit, tetapi diantara umat Islam setempat terdapat orang-orang dloif/lemah, sebab sudah tua agak sakit-sakitan sehingga berat untuk hadir di lapangan, maka disamping sholat hari raya di lapangan juga diadakan di Masjid, untuk menampung teman-teman yang dloif. Yang tersebut tadi kalau tidak kebetulan hujan. Kalau terjadi hujan, maka sholat hari raya dilaksanakan di Masjid.
Orang-orang ahli taqlid mengaku taqlid kepada Imam Syafi’i, padahal mereka hanya tahu Sulam Safinah, Fathul Qorib dan Fathul Mu’in. Apakah itu dapat dibenarkan?
Kitab-kitab Sulam Safinah, Fathul Qorib, dan lain sebagainya itu adalah kitab-kitab bermadzhab Syafi’i. mengapa tidak dapat dibenarkan?
Tanya jawab yang ada dalam artikel ini dicuplik dari buku "Apa, Bagaimana dan Siapa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah", buku ini pada awalnya tertulis dalam huruf arab pego, kemudian diterjemahkan dan ditulis kembali oleh PC NU Pekalongan. Buku ini sendiri merupakan materi upgrading tentang ahlussunnah wal jamaah yang disampaikan KH. Bisri Mustofa di Pondok Pesantren Rembang pada tanggal 3-14 Romadlon 1386/15-26 Desember 1966. Tanya jawab ini merupakan arsip pertanyaan dan jawaban yang disampaikan dalam acara tersebut. Materi Tanya jawab ini sendiri sangat penting dikaji kembali oleh generasi muda Islam karena pada era masa kini banyak sekali pengaburan makna ahlussunnah.
Selamatan-selamatan model Budha seperti ambengan, kupat lepet, bubur (jenang) mirah, dan lain sebagainya itu apakah tidak seharusnya diberantas? Sebab sudah terang di dalam Islam tidak ada?
Shodaqoh itu pada prinsipnya adalah anjuran Islam.
Di zaman Rasulullah Abu Bakar dan Umar, adzan Jum’at itu terdapat hanya sekali. Tetapi di zaman Utsman bin Affan, menjadi dua kali. Apakah itu tidak mengubah sunah Rasul?
Dua kali itu artinya sekali ditambah sekali, bukan? Apakah saudara dapat menunjukkan dalil yang melarang menambah adzan satu kali?
Sholat tarawih di zaman Rasullah dan Abu bakar As-Shiddiq terdapat hanya delapan rakaat, tetapi di zaman Umar bin Khottob menjadi dua puluh rakaat, bagaimana itu?
Dua puluh rakaat itu adalah delapan rakaat ditambah dua belas rakaat, adakah pada saudara itu dalil yang melarang tambahan dua belas rakaat.
Pada waktu Rasululah ditanya, bagaimana kami membaca sholawat atas paduka? Rasulullah menjawab, bacalah “Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad Wa ‘Ala Aali Muhammad” tetapi di dalam keterangan ahli taqlid selalu digunakan tambahan Sayyidina, sunahkah tambahan itu?
Fathul Mu’in hanya menerangkan:
لاَبَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّد
Tidak ada bahayanya dengan tambahan kalimat sayyidina sebelum kalimat Muhammad.
Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku pada tahun ini, yang termasuk Engkau larang, sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Engkau maklumi karena kemurahan-Mu, sementara Engkau mampu menyiksaku, dan perbuatan dosaku yang Engkau perintahkan untuk tobat, sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Engkau menerima perbuatanku yang Engkau ridhai pada tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah Engkau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.
Udhiyyah merupakan sebutan untuk hewan yang disembelih dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada hari nahr (Iedul Adha) dengan syarat-syarat tertentu. Tadzkiyah adalah sebab yang mengakibatkan halalnya mengkonsumsi hewan darat. Tadzkiyah mencakup dzabh (menyambelih hewan dengan cara melukai bagian leher paling atas) dan nahr (menyembelih hewan dengan cara melukai bagian pangkal leher), bahkan mencakup juga 'aqr (menyembelih hewan dengan cara melukai salah satu bagian tubuh hewan tersebut), sebagaimana ketika lembu atau unta diburu kemudian ditusuk dengan tombak atau semisalnya yang diiringi dengan dengan tasmiyah (mengucapkan bismillah) dan niat berqurban. Disebutkan juga bahwa tadzkiyah merupakan jalan syar'í agar menjaga kesucian hewan tesebut dan halal dikonsumsi jika hewan itu bisa dimakan, serta halal dipergunakan kulit dan rambutnya jika tidak bisa dikonsumsi.
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil:
Tafsir At-Taubah 122
Ayat ini menjelaskan tentang pembagian tugas dalam masyarakat Islam, di mana tidak semua orang harus terlibat langsung dalam peperangan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. QS At-Taubah: 122)
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil 2 Februari 2025
Al-Qur'an, kalamullah yang abadi, senantiasa membuka lembaran-lembaran hikmah bagi setiap insan yang merenunginya. Dalam Surah At-Taubah, khususnya ayat 101 hingga 107, kita disuguhkan potret jujur tentang hakikat kemunafikan dan kemurahan Allah dalam menerima tobat. Ayat-ayat ini, bagaikan cermin, memantulkan ragam karakter manusia dan konsekuensi pilihan-pilihan hidup mereka.
Menyelami Kedalaman Kemunafikan: Teguran Ilahi untuk Hati yang Membatu
"Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (QS. At-Taubah: 101)
Apabila diturunkan suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun (bagi) orang-orang yang beriman, (surah yang turun) ini pasti menambah imannya dan mereka merasa gembira.
Ayat di atas menggambarkan reaksi yang berbeda terhadap turunnya surah Al-Qur'an antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Untuk memahami konteksnya, mari kita telaah lebih dalam.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!
Ayat ini termasuk ayat Madaniyah karena diawali dengan kalimat
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
yang merupakan ciri khas ayat-ayat Madaniyah.
Perintah Allah kepada orang-orang beriman, khususnya penduduk Madinah, untuk bertakwa. Salah satu tafsir dari kalimat "at-taqwa" sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,
Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir
At-Taubah 121
Dalam jihad fi sabilillah, peran serta orang yang berinfaq dan bershadaqah meski sangat sedikit sangatlah penting dan berharga dihadapan Allah. Allah tegaskan:
Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. At-Taubah: 121)
Ayat yang agung ini, bagaikan lukisan indah tentang kemurahan Allah dan keadilan-Nya, menyingkap tabir bahwa setiap gerak dan gerik, setiap tetes peluh dan curahan harta di jalan kebaikan, sekecil apapun, tidak akan pernah luput dari catatan Sang Maha Pencatat.
Adapun (bagi) orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, (surah yang turun ini) akan menambah kekufuran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.
Ayat ini secara jelas menggambarkan kondisi orang-orang yang hatinya bermasalah, atau dalam konteks agama disebut kemunafikan. Ini berarti keyakinan dan akidah mereka cacat. Ada kemunafikan dan keragu-raguan dalam meyakini kebenaran agama Allah. Ketika sebuah surah diturunkan, alih-alih mendapatkan petunjuk, mereka justru bertambah kemunafikannya dan kekafirannya semakin menjadi-jadi. Akibatnya, hati mereka semakin kotor dan sesat, yang pada akhirnya akan menyebabkan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tidak pernah meninggalkan dunia fana ini kecuali dengan membawa keimanan. Jabatan, status sosial, atau kekayaan tidak akan dituntut di akhirat. Yang dituntut hanyalah satu hal: status diri sebagai seorang muslim yang teguh. Sebagaimana firman Allah,
Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 9 Februari 2025: Tafsir
At-Taubah 109-111
Menyelami samudra makna Surah At-Taubah, khususnya ayat 109
hingga 111, dengan sentuhan pemahaman yang membuka cakrawala pemikiran kita,
menyingkap lapisan-lapisan hikmah yang tersembunyi di balik untaian firman
Allah SWT.
Maka, apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya
(masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan rida(-Nya) itu lebih baik, ataukah
orang-orang yang mendirikan bangunannya di sisi tepian jurang yang nyaris
runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka
Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim
Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (berperang), dan tidak (pula) mencintai diri mereka sendiri melebihi cintanya kepada diri Rasulullah. (QS. At-Taubah: 120)
Ayat ini merupakan teguran keras dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui (A'rab) di sekitar mereka yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk.
Ringkasan Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 4 Mei 2025: Tafsir At-Taubah 117-118
Ayat 117 dan 118 dari Surah At-Taubah menghadirkan lukisan agung tentang rahmat dan kasih sayang Allah Swt., terutama dalam konteks kesulitan dan ujian yang dihadapi oleh kaum Muslimin di masa Rasulullah Saw. Lebih dari sekadar catatan sejarah, ayat ini menyimpan pelajaran mendalam tentang kekuatan taubat dan istighfar, sebagaimana yang senantiasa ditekankan dalam kajian-kajian hikmah, termasuk yang disampaikan oleh Habib Husein Ibn Alwy Ibn Agil.
Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah [9]: 117)
Dalam rangka menumbuhkan semangat syiar Islam serta mengembangkan bakat generasi muda, kami menghadirkan kembali NUHA FEST 2025, dengan mengusung tema:
💡 Mencerdaskan Generasi Muda, Meneguhkan Akhlak, dan Unggul dalam Prestasi ✨
NUHA FEST 2025 menghadirkan berbagai kompetisi, yakni:
🕌 MHQ (Musabaqoh Hifdzil Qur'an)
🎨 Kaligrafi Kontemporer
🗣️ English Speech Competition
Melalui lomba-lomba ini, kami ingin mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya bersaing, tetapi juga berkembang menjadi pribadi yang unggul dalam ilmu, kuat dalam akhlak dan luas dalam wawasan 🙌
Salam silaturrahim kami sampaikan kepada keluarga besar Alumni dan wali santri PPSSNH Mergosono Malang. Kami atas nama Pengurus Alumni PPSSNH mengharap dengan hormat para Alumni PPSSNH (seluruh angkatan) dan wali santri dalam acara HAUL KE-11 Murobbi ruuhina ABAH KH. Drs. AHMAD MASDUQI MAHFUDZ Beserta HAUL KE-10 UMI NYAI Hj. CHASINAH HAMZAWI yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari: Ahad Pagi
Tgl: 13 Oktober 2024
Tempat: PPSSNH MERGOSONO MALANG
Demikian pemberitahuan dan undangan kami, atas perhatian, partisipasi dan kehadirannya disampaikan banyak terima kasih