Artikel Keislaman


Mawar yang Tak Pernah Layu: Menyelami Keagungan Agung dan Kasih Abadi Baginda Nabi

Kajian Dakhair Muhammadiyah, 1 Nopember 2026 Halaman 66. Qashidah Imam Ibn Hajar Al-Haitami bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil di Pesantren Dzinnuha Sawojajar
Keindahan dan keistimewaan Rasulullah ﷺ merupakan samudera tak bertepi yang senantiasa menjadi muara pengabdian dan cinta para ulama sepanjang zaman.
Dalam untaian bait-bait qasidah yang disusun oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan disyarahi oleh Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad Habibullah Asy-Sijinny Al-Jakani Al-Maliki, terungkap hakikat spiritual, kemuliaan jasad, serta kesinambungan hubungan batin antara Sang Nabi dan umatnya.

Keistimewaan dan keagungan Rasulullah ﷺ  terangkum dalam beberapa point dibawah ini:

1. Kemuliaan Jasad yang Abadi di Alam Barzakh

Bumi dan tanah diharamkan oleh Allah SWT untuk merusak jasad para nabi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Abu Dawud dari sahabat Aus bin Aus RA, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.

  • Bagaikan Mawar yang Tak Pernah Layu: Jasad Rasulullah ﷺ di liang lahad digambarkan bak sekuntum bunga mawar (kawardin) yang senantiasa segar, harum, serta tidak akan pernah mengalami kelayuan, kekeringan (zubul), maupun kerusakan akibat pergeseran zaman.

  • Terpelihara dari Gangguan: Liang lahad beliau terpelihara dari serangga, cacing, maupun mikroorganisme tanah.

  • Mencapai Derajat Syahid dan Nubuwwah: Rasulullah ﷺ dihimpunkan padanya dua kemuliaan tertinggi: maqam Kenabian (Nubuwwah) dan Kesyahidan (Syahadah). Kesyahidan beliau terhubung dengan efek racun hidangan Khaibar yang dirasakannya hingga akhir hayat, sebagaimana dipertegas dalam firman Allah SWT: "...Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?" (QS. Ali 'Imran: 144).

2. Kehidupan Real (Hayat Haqiqiyyah) dan Ibadah para Nabi

Para nabi hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang nyata secara jasmani dan rohani (hayat haqiqiyyah bi abdanihim), jauh melampaui tingkatan kehidupan para syuhada.

  • Shalat sebagai Kenikmatan (Taladdfuz): Rasulullah ﷺ beserta para nabi menunaikan shalat di dalam kubur mereka. Shalat ini bukan lagi bentuk beban syariat (taklif), melainkan bentuk mengenyam puncak kenikmatan dan kebahagiaan spiritual (taladdfuz biha), sebagaimana kedudukan tasbih dan tahmid bagi para penghuni surga yang diilhamkan seperti layaknya hembusan napas.

  • Penjagaan Malaikat: Para malaikat senantiasa hadir mengelilingi pusara beliau atas perintah Allah SWT, menyampaikan salam, serta mengagungkan keberadaan beliau.

3. Ikatan Batin yang Tak Pernah Putus dengan Umat

Keterikatan dan kepedulian Rasulullah ﷺ terhadap umatnya tidak terhenti oleh batas kematian duniawi. Dalam sebuah hadis mursal yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dari Bakar bin Abdillah Al-Muzani, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hidupku adalah kebaikan bagi kalian... dan wafatku pun adalah kebaikan bagi kalian. Amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat kebaikan, aku memuji Allah. Dan jika aku melihat keburukan, aku memohonkan ampunan untuk kalian."

  • Laporan Amal Setiap Hari: Setiap hari, amal perbuatan umat dilaporkan kepada Baginda Nabi ﷺ. Kebajikan umat mendatangkan kegembiraan dan rasa syukur beliau, sedangkan kekhilafan umat mendorong beliau untuk senantiasa memanjatkan istighfar dan memohonkan ampunan ke hadirat Allah SWT.

  • Kasih Sayang Abadi: Berbeda dengan orang tua yang batas kepeduliannya terhenti seiring perpisahan ajal, Rasulullah ﷺ tetap menjadi pengayom rohani yang terus memohonkan keselamatan bagi umatnya di alam barzakh.

4. Keutamaan Tempat Persemayaman Rasulullah ﷺ

Para ulama ahli hadis dan fuqaha—seperti Al-Imam Al-Qasthallani (penyarah Shahih Al-Bukhari), Al-Qadhi 'Iyadh, Tajuddin As-Subki, hingga Ibnu 'Aqil Al-Hanbali—telah mencapai konsensus (ijma') mengenai keagungan tanah yang menyentuh jasad mulia Rasulullah ﷺ:

  • Mencapai Puncak Kemuliaan: Sebidang tanah yang menghimpun jasad mulia Rasulullah ﷺ adalah tempat terbaik di seluruh permukaan bumi, bahkan kedudukannya lebih afdal daripada Ka'bah, petala langit, hingga Arsy (singgasana Allah) dan Surga Firdaus.

  • Sumber Kehormatan Alam Semesta: Ka'bah memiliki nilai dan kemuliaan justru karena syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Demikian pula langit menjadi mulia karena pernah terinjak oleh kedua kaki mulia beliau saat peristiwa Isra' Mi'raj, dan bumi menjadi mulia karena menjadi tempat berdomisili Sang Nabi Agung.

Kesimpulan dan Implikasi Akidah

Memahami keistimewaan Rasulullah ﷺ bukan sekadar wawasan sejarah, melainkan pilar utama dalam membangun kesempurnaan akidah Ahli Sunnah wal Jama'ah. Meyakini kedudukan, kehidupan barzakhi, serta keagungan jasad Baginda Nabi ﷺ adalah jalan untuk memperhalus rasa cinta (mahabbah), mengagungkan sunnah-sunnah beliau, serta memperbanyak shalawat dan istighfar agar kelak layak menerima syafaat beliau di hari kiamat.


Menyelami Samudra Keagungan Sang Kekasih: Dari Wanginya Peluh hingga Cahaya Bunda Aminah

Kajian Dakhair Muhammadiyah bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Mengulas tentang nazham Sheikh Amin Qutby tentang Orang Tua dan Sosok Nabi

Pernahkah kita sejenak merenung, duduk bersimpuh membayangkan sosok manusia yang namanya bersanding dengan nama Allah di 'Arsy? Kalau kita mau bicara soal Baginda Nabi Muhammad SAW, sungguh, akal kita ini terlalu sempit dan bahasa manusia terlalu kerdil untuk membedah khashaish (kekhususan) dan keagungannya. Ini bukan sekadar tokoh sejarah biasa, ini Sayyidul Wujud, pemimpin seluruh makhluk! Mari kita bedah perlahan-lahan keistimewaan beliau, agar cinta mahabbah di hati kita ini semakin mekar dan tak tergoyahkan.

1. Kesempurnaan Fisik yang Tak Tertandingi

Coba bayangkan, manusia biasa kalau bekerja keras, beraktivitas fisik, pastilah keringatnya bercucuran dan... ya, kita tahu sendirilah baunya. Tapi Baginda Nabi? Keringat beliau itu memancarkan aroma wangi yang luar biasa! Tanpa parfum, tanpa wewangian buatan. Saking wanginya, Sayyidah Ummu Sulaim, ibundanya sahabat Anas bin Malik, sampai sengaja menampung tetesan keringat Rasulullah SAW. Untuk apa? Untuk dijadikan campuran biang parfum terbaik! Bayangkan, keringatnya saja mengalahkan wewangian termahal di dunia.

Lalu perhatikan keistimewaan yang satu ini, yang membuktikan bahwa jasad beliau suci tak tersisa kotoran sedikit pun. Rasulullah SAW itu tidak pernah meninggalkan sisa kotoran buang hajat yang berbau atau nampak di permukaan bumi. Kenapa? Karena bumi seolah-olah "berebut" dan diperintahkan Allah untuk langsung menelannya seketika! Bumi tak rela jika kotoran kekasih Allah itu terlihat oleh mata manusia. Bahkan, ada riwayat luar biasa tentang Ummu Aiman (Barakatul Habasyiyah). Suatu malam, beliau kehausan dan tanpa sengaja meminum air dari sebuah wadah yang ternyata adalah air seni Rasulullah SAW. Saat Rasulullah mengetahuinya, apa sabda beliau? Beliau tidak marah, justru mengabarkan bahwa Ummu Aiman tidak akan pernah merasakan sakit perut seumur hidupnya! Subhanallah, apa yang keluar dari tubuh Nabi adalah obat dan keberkahan.

Selengkapnya ...


Menyingkap Kemuliaan Orang Tua Rasulullah

Kajian Dakhair Muhammadiyah Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil (setiap awal bulan di Pesantren Dzinnuha)

Perdebatan teologis seputar status keimanan dan keselamatan kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yaitu Sy. Abdullah dan Aminah kerap menjadi diskursus yang mendalam di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Sebagian pihak berpendapat bahwa mereka termasuk ahlu fatrah yang meninggal dalam masa kevakuman kenabian dan dikaitkan dengan narasi azab. Namun, pandangan ini mendapat sanggahan yang sangat telak dari para ulama muhaqqiqin (otoritatif), yang menegaskan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW berada dalam kemuliaan dan keselamatan mutlak.

Mengapa Pendapat Mulla Ali Al-Qari Tertolak?

Mulla Ali Al-Qari dalam sebagian karyanya sempat condong pada pendapat yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi SAW termasuk golongan yang tidak selamat (berada di fatrah yang diazab), mengikuti sebagian ulama yang terpaku pada dzahir riwayat tertentu.

Namun, pandangan ini ditolak secara tegas oleh para ulama besar berbasis argumentasi ushul fiqh, tarikh (sejarah), dan akidah Ahlussunnah. Penolakan tersebut didasarkan pada beberapa prinsip fundamental:

Selengkapnya ...