Adab Berpuasa
Rasulullah telah bersabda:
Inni bu'itstu li utammima makarimal ahlaq.
Aku diutus untuk menyempurnakan ahlaq.
Sebagai penyempurna tiap ibadah, selalu diselipkan adab atau ahlak dalam menjalaninya, sebagai bagian tarbiyah ummat menuju ahlak yang mulia. Begitu juga bagi orang yang berpuasa, ada adab atau ahlak yang harus dijalani, karena tidak akan sempurna puasa itu kecuali dengan adanya adab tersebut.
Puasa bulan Sya'ban dan hikmahnya
Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. berpuasa pada bulan Sya'ban sebagaimana keterangan dari hadits-hadits mendatang:
I'tikaf
I'tikaf adalah niat berdiam di dalam masjid dalam keadaan puasa menurut Imam Malik bin Anas. Menurut Imam Asy Syafi'i dan Ahmad bin Hambal, puasa itu bukanlah syarat dalam i'tikaf. Dan menurut Imam Abu Hanifah, puasa itu menjadi syarat dari i'tikaf yang wajib. I'tikaf ini hukumnya ditetapkan oleh Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma'.
Asal puasa
Adapun asal dari puasa itu, maka berbuka puasa pada permulaan Islam, adalah dari terbenam matahari sampai tidur. Apabila seseorang tidur, meskipun setelah sesa'at kemudian bangun, maka haram atasnya makanan, minuman dan hubungan seksual, seperti puasa Ahli Kitab. Demikian pula waktu berbuka itu habis dengan kedatangan waktu shalat 'isyak. Dan sebab apa yang terjadi pada diri sahabat Qais dan lainnya, maka Allah swt. memberi keringanan dan memperluas waktu berbuka sampai terbit fajar. Maka bagi Allah-lah tambahan pujian.
Derajat puasa
Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkat, yaitu: puasa umum, puasa khusus, dan puasa istimewa.
Puasa dan Problematikanya
Puasa adalah rukun yang keempat bagi agama Islam. Barangsiapa yang menentangnya, atau mengingkarinya, atau sengaja tidak mau melakukannya tanpa ada udzur (alasan) yang dibenarkan oleh agama Islam atau karena sakit, maka benar-benar dia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan imannya berkurang.