PPSSNH NURUL HUDA

Mergosono Malang

/artikel/shafwat_tafasir

Konsep Munasabah Al-Qur'an dan Fenomena Psikologi Keimanan: Membedah Surah Yunus Ayat 21–24

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil

Pendahuluan: Urgensitas Ilmu Munasabah dalam Sistematika Wahyu

Dalam studi Ulumul Qur'an, salah satu cabang ilmu yang amat krusial untuk memahami keutuhan makna al-Qur'an adalah Ilmu Munasabah. Yakni kajian ilmiah mengenai korelasi, keterkaitan, dan keserasian antar-ayat maupun antar-surah.

Secara historis, al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus (jumlatan wahidatan), melainkan secara berangsur-angsur (tanjil) selama kurang lebih 23 tahun sesuai dengan konteks peristiwa (asbab an-nuzul). Sebagai contoh, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira adalah lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq (Iqra'). Namun, ketika al-Qur'an dibukukan ke dalam bentuk Mushaf Usmani, urutannya diawali oleh Surah Al-Fatihah.

Ketidaksesuaian antara kronologi penuturunan (tartib an-nuzul) dan penulisan dalam mushaf (tartib at-taqfif/at-tawbib) ini bukanlah kebetulan. Penempatan setiap ayat dan surah dibimbing langsung oleh Wahyu Ilahi (tauqifi) melalui arahan Rasulullah ﷺ kepada para juru tulis wahyu. Oleh karena itu, mencari benang merah (korelasi) antara satu kelompok ayat dengan ayat berikutnya merupakan tugas intelektual para mufasir untuk menyingkap keutuhan pesan Al-Qur'an.

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kajiannya mengenai Surah Yunus ayat 21 hingga 39 menunjukkan bagaimana kelompok ayat ini bersambung secara harmonis dari pembuktian risalah (ayat-ayat sebelumnya) menuju pembuktian ketidakrasionalan perbuatan syirik serta potret psikologis manusia yang labil.

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Menakar Kualitas Iman dan Menyelami Hakikat Ulama Sejati: Sebuah Ibrah dari Kisah Thalut dan Abu Dahdah

 

Kajian Sofwat Tafasir Surat Baqarah Ayat 249 Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, 9 April 2017

Bismillahirrahmanirrahim.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢ بِيَدِهٖۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝٢٤٩

Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar.

Keimanan itu menuntut sebuah konsekuensi. Seseorang yang bersaksi bahwa dirinya beriman, niscaya akan dihadapkan pada ujian demi ujian untuk membuktikan sejauh mana kejujuran syahadatnya. Menengok kembali lembaran sejarah Bani Israil dalam Surat Al-Baqarah, kita dihadapkan pada sebuah potret epik tentang Raja Thalut,seorang pemimpin yang ditunjuk langsung oleh Allah yang memimpin 80.000 pasukan tempur.

Tatkala mereka keluar meninggalkan Baitul Maqdis menembus padang sahara yang tandus nan terik, dahaga yang amat sangat mencekik kerongkongan mereka. Di saat itulah, ujian itu diturunkan. Thalut menyampaikan titah dari langit, "Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Barangsiapa yang minum airnya, maka ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa yang tidak merasakannya, kecuali meraup secanting air dengan tangannya, maka ia adalah pengikutku."

Sungai Syariah yang membelah Yordania dan Palestina itu menjadi saksi bisu betapa rapuhnya komitmen manusia. Di tengah kepanasan, air sungai itu seakan melambai-lambai, mengundang syahwat. Begitu pula realitas kehidupan kita hari ini. Sungai itu adalah metafora dari kemilau duniawi. Berapa banyak orang yang lantang meneriakkan komitmen perjuangan Islam, namun begitu melihat "lembaran rupiah merah" (halawah hamra), mereka lupa pada baiatnya? Mereka lari berhamburan, menceburkan diri, bahkan selulup dalam nikmat sesaat. Dari 80.000 laskar, 76.000 orang gugur dalam ujian syahwat perut. Hanya tersisa 4.000 orang yang benar-benar memegang teguh ketaatan.

Hakikat Manusia dan Ulama Sejati

Kualitas kemanusiaan itu tidak diukur dari casing luar. Muka boleh sama, kopiah sama, bentuk dada sama, namun hati dan isinya jauh berbeda. Di saat 4.000 orang yang tersisa melihat balatentara musuh di bawah pimpinan Jalut yang terlatih dan jumlahnya berlipat-lipat ganda, gentarlah sebagian dari mereka. Mereka berkata, "Hari ini kita tidak punya kemampuan untuk melawan Jalut dan bala tentaranya." 

Namun, perhatikanlah golongan Ash-Shafwah, hamba-hamba pilihan, ulama-ulama al-abrar yang sejalan antara ilmu dan amal perbuatannya. Mereka yang punya keyakinan kuat akan hari perjumpaan dengan Tuhannya berkata dengan lantang: "Berapa banyak kelompok yang kecil mampu mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah? Dan Allah bersama orang-orang yang sabar." 

Inilah poin penting yang harus kita sadari hari ini. Kita tidak butuh "islamologi"—orang yang ahli teori keislaman, pintar merangkai kata, pandai membaca kitab, menyandang gelar mentereng, namun buta dalam pengamalan. Kita tidak butuh orang berilmu namun perutnya terbiasa diisi dengan barang syubhat dan haram, sehingga mereka tak segan menjual agamanya atau membela para penista agama.

Ulama sejati adalah ulama klasik yang walau hanya tahu satu huruf, ia amalkan dengan segenap jiwa raga. Akhlaknya memancarkan Al-Qur'an. Jika tidak ada kriteria itu, mereka bukanlah ulama, melainkan "ngelama"—manusia-manusia yang kurang ajar terhadap ajaran agamanya sendiri.

Doa sebagai Senjata dan Guyuran Kesabaran

Ketika berhadapan face to face dengan kematian, para pejuang itu memanjatkan doa yang mengguncang arasy: "Rabbana afrigh 'alaina shabran, wa tsabbit aqdamana, wanshurna 'alal qaumil kafirin." (Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir). 

Kalimat "Afrigh 'alaina shabran" menyimpan rahasia balaghah yang indah. Mereka mengibaratkan kesabaran seperti air segar yang dituang mengguyur seluruh tubuh yang sedang kepanasan, meresap hingga ke sanubari, menghadirkan kesejukan, kedamaian (hudhu'), dan ketenangan batin dalam menghadapi kepungan musuh. Dari ketenangan hati inilah muncul siasat, keberanian, dan pada akhirnya, kemenangan. Lewat tangan seorang pemuda beralas kaki bernama Daud 'alaihissalam, kesombongan Jalut tumbang.

"Menghutangi" Allah: Kisah Kedermawanan Abu Dahdah

Selain keteguhan hati di medan juang, Allah juga menguji hamba-Nya di medan harta. Al-Qur'an menggunakan bahasa yang sangat indah untuk memotivasi sedekah:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةًۗ وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝٢٤٥

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki. KepadaNya lah kamu dikembalikan."

Maha Suci Allah dari segala kebutuhan. Lalu mengapa Allah memakai redaksi "meminjam"? Ini adalah dorongan (targhib) yang luar biasa agar kita gemar bersedekah. Membantu orang kelaparan, kehausan, dan menjenguk orang sakit hakikatnya adalah bermuamalah dengan Allah SWT.  Ketika ayat ini turun, sahabat Abu Dahdah mendatangi Rasulullah dan bertanya, "Ya Rasulullah, benarkah Allah menginginkan pinjaman dari kita?" Ketika Nabi membenarkannya, Abu Dahdah langsung berkata, "Saksikanlah, kebunku telah aku pinjamkan kepada Tuhanku!"

Padahal kebun itu berisi 600 pohon kurma siap panen, dan di situlah tempat tinggal istri dan anak-anaknya. Abu Dahdah pulang, memanggil sang istri dari luar pagar, "Wahai Ummu Dahdah, keluarlah! Kebun ini telah aku hutangkan kepada Allah Azza wa Jalla."

Bagaimana respons sang istri? Apakah ia mencaci maki dan menuduh suaminya gila karena "menggadaikan" rumah mereka? Tidak. Ummu Dahdah menjawab dengan senyum keimanan, "Sungguh beruntung transaksimu, wahai Abu Dahdah!" Lalu ia membawa anak-anaknya keluar, meninggalkan kebun itu dengan hati lapang.

Saudaraku, mari kita bermuhasabah. Masih adakah keteguhan bak 4.000 pasukan Thalut di dada kita? Masih adakah kerelaan dan sinergi amal saleh antara suami-istri setingkat Abu Dahdah dan Ummu Dahdah di dalam rumah tangga kita?

Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan ayat-ayat Allah yang diwahyukan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai pedoman bagi kita. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang barokah, yang dengannya keimanan dan ketakwaan kita hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin, mengantarkan kita pada keselamatan dan kejayaan, di dunia hingga di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

/artikel/shafwat_tafasir

Hiburan Pertama Bagi Jiwa yang Teruji: Kajian Mukadimah Surah Yusuf

Kajian Sofwat Tafasir, bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, pembuka Surat Yusuf 
Setiap surah di dalam Al-Qur'an diturunkan dengan karakteristik, irama, dan maksud yang unik. Namun, Surah Yusuf memegang posisi istimewa di hati para pembacanya. Berbeda dari kebanyakan surah Makkiyah yang sarat akan peringatan keras dan ancaman, Surah Yusuf hadir bagaikan embun pagi (nadiyyah)—segar, lembut, dan penuh dengan penawar kegetiran hidup.

1. Latar Belakang Penurunan: Penawar Luka Sang Nabi (Tasliyah)

Surah Yusuf diturunkan pada salah satu fase tersulit dalam kehidupan Rasulullah. Momen tersebut terjadi setelah penurunan Surah Hud—surah yang begitu menegangkan hingga membuat fisik dan gaya kepemimpinan Nabi merasakan beban yang amat berat.

Kala itu, Rasulullah  baru saja kehilangan dua pilar utamanya dalam waktu yang berdekatan:

  • Siti Khadijah: Istri suci, penuh kasih, tempat berteduh, dan penyokong emosional terbesarnya.

  • Abu Thalib: Paman sekaligus benteng perlindungan politik dan sosial dari gangguan kaum Qurays.

Masa perih ini dicatat dalam sejarah sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Beliau dan para sahabat mengalami keterasingan (al-ghurbah) dan isolasi di tanah kelahiran sendiri.

Di tengah kesepian (al-wahsyah) dan penderitaan bertubi-tubi itulah Allah menurunkan Surah Yusuf sebagai tasliyah/sebuah hiburan, penawar luka, dan balsem spiritual (balsam) untuk menenteramkan hati Baginda Nabi. Seolah Allah berfirman:

"Janganlah engkau berduka wahai Muhammad. Lihatlah saudaramu Yusuf, perhatikan bagaimana ia melewati berbagai bentuk ujian dan makar, hingga akhirnya Allah berikan kejayaan."

2. Keunikan Uslob dan Keindahan Bahasa

Surah Yusuf memiliki uslub (gaya bahasa) dan keistimewaan struktur yang membedakannya dari surah-surah lain:

  • Satu Narasi Utuh (Mufassal): Umumnya, kisah para nabi dalam Al-Qur'an disampaikan secara terpotong-potong di berbagai surah (mujmal) untuk menimbulkan rasa penasaran. Namun, Surah Yusuf disajikan secara utuh dari awal hingga akhir dalam satu rangkaian episode yang detail (tafsiriyyatun).

  • Kehalusan Bahasa: Meski memuat dinamika konflik yang intens—dengki saudara, perbudakan, hingga godaan asmara—Al-Qur'an menyampaikannya dengan kosa kata yang amat santun, jauh dari kesan vulgar atau seronok.

  • Pemberi Kebahagiaan (Fakahah): Khalid bin Ma'dan meriwayatkan bahwa kelak penghuni surga menjadikan Surah Maryam dan Surah Yusuf sebagai bacaan saat mereka berkumpul dan bersuka cita.

Bahkan Dzunnun Al-Misri pernah mengungkapkan:

"Tidaklah Surah Yusuf dibacakan kepada seseorang yang sedang berduka, melainkan ia akan merasa rileks dan mendapatkan ketenangan."

3. Menjaga Akidah: Memahami Ujian dan Kehormatan Para Nabi

Salah satu poin penting dalam kajian mukadimah ini adalah penegakan akidah terkait sifat 'Ismah (penjagaan Allah dari dosa) bagi para nabi.

Dalam fragmen godaan Zulaikha (Imra'atu Aziz), kerap terjadi salah paham atau pengaruh kisah Isra'iliyyat yang menggambarkan seolah-olah Nabi Yusuf  terbawa nafsu. Tafsir dari kalimat hamma yang dinisbatkan pada Sayidah Zulaikha dan Nabi Yusuf berbeda. Tafsir yang benar seharusnya:

Tokoh Keinginan (Hamma) Bukti Konkrit
Zulaikha Keinginan untuk mendekat dan memuaskan hasrat (muraawadah). Ditarik dari depan/belakang.
Nabi Yusuf  Keinginan untuk menghindar dan berlari menyelamatkan diri. Baju bagian belakang yang robek.
Kesaksian dari saksi keluarga (bayi yang dimampukan berbicara) membuktikan bahwa baju Nabi Yusuf  robek di bagian belakang, menandakan beliau sedang berlari menjauh. Namun, demi menjaga nama baik keluarga pejabat, Nabi Yusuf tetap disalahkan dan dipenjara.

4. Falsafah Ujian: Roda yang Berputar dan Janji Kemudahan

Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa dinamika kehidupan manusia bekerja bagaikan roda jam—terus berputar menuju titik yang sama. Ujian yang dialami Nabi Yusuf sangatlah kompleks:

  1. Kedengkian Karib Kerabat: Dibuang ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya sendiri.

  2. Fitnah dan Perbudakan: Dijual murah dan menjadi pelayan di rumah pejabat.

  3. Makar Asmara: Digoda dan difitnah hingga dijebloskan ke penjara.

Namun, kesabaran (sabar indah) membawa perubahan dari penjara sempit (as-sijn) menuju istana megah (al-qasr). Allah melantik beliau menjadi bendaharawan negeri Mesir (Aziz Misr).

Rahasia Kebahagiaan: Satu Kesulitan, Banyak Kemudahan

Dalam kajian ini digarisbawahi kaidah tata bahasa Al-Qur'an mengenai kemudahan dan kesulitan:

  • Kata Al-'Usr (kesulitan) disebutkan dalam bentuk Ma'rifah (definisi tunggal).

  • Kata Yusr (kemudahan) disebutkan dalam bentuk Nakirah (umum dan berulang).

Secara kaidah balaghah, satu jenis kesulitan tidak akan pernah bisa mengalahkan banyak jalan kemudahan yang disediakan oleh Allah.

Pesan Utama

Melalui Mukadimah Surah Yusuf, kita diajak untuk memahami bahwa penderitaan dan keasingan yang kita alami bukanlah tanda ditinggalkan oleh Allah. Sebaliknya, itu adalah proses penempaan jiwa. Barangsiapa yang bersabar dalam memperjuangkan akidah dan teguh di atas jalan para nabi, maka janji kemudahan, martabat, dan kelapangan dada pasti akan datang menyapa.
/artikel/shafwat_tafasir

Meneguhkan Hati dan Menata Jiwa: Point Penting Kajian Akhir Surat Hud

Meneguhkan Hati dan Menata Jiwa: Point Penting Kajian Akhir Surat Hud

Rangkuman Kajian bagian akhir Surah Hud ayat 113-habis oleh Habib Husein bin Alwy Binagil menegaskan bahwa tujuan utama pengkisahan sejarah masa lalu dalam Al-Qur'an adalah sebagai peneguh jiwa Nabi Muhammad SAW serta pelajaran (ibrah) bagi kaum mukminin. Disampaikan di Pesantren Dzinnuha Sawojajar pada 16 Agustus 2026.

1. Keimanan dan Kecerdasan Spiritual sebagai Kunci Kebenaran

Al-Qur'an menegaskan bahwa nasihat dan pelajaran mulia dikhususkan bagi orang-orang yang beriman (wa dzikraa lil mu'miniin). Kunci utama menangkap petuah Al-Qur'an bukanlah kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi semata, melainkan kecerdasan spiritual yang lahir dari keimanan. Orang yang bergelar akademik tinggi namun gagal menangkap sinyal kebenaran agama dijuluki Al-Qur'an sebagai sufaha (orang-orang yang dangkal kecerdasan jiwanya). Sejarah kisah para nabi terdahulu disampaikan dengan keakuratan 100% (al-naba' al-yaqini al-shadiq) guna meneguhkan kemantapan hati Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah.

Keinginan Ilahi dan hidayah merupakan anugerah (fadhl) khusus dari Allah, bukan semata-mata karena silsilah keluarga, keturunan, atau kepintaran personal. Di sisi lain, amalan kebaikan—seperti shalat lima waktu (ash-shalawat al-khams)—memiliki kekuatan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil (gugurnya dosa kecil). Namun, untuk dosa besar, dibutuhkan taubat nasuha (ijtinaab al-kaba'ir). Oleh karena itu, Allah menekankan pentingnya bersabar dan istiqamah dalam beribadah serta menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (laa yudhii'u ajral muhsiniin).

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Menimbang Keadilan dan Rahmat Allah di Hari Perhitungan

Rangkuman Kajian Sofwat Tafasir Surat Hud rumpun ayat 105-113 Bersama Habib Husain Ibn Alwy Binagil

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Asyrafil Anbiya’i wal Mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Membaca Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan menelusuri keindahan hikmah Ilahi. Ketika kita sampai pada Surah Hud ayat 105 hingga 113, kita dihadapkan pada gambaran yang sangat menggetarkan jiwa mengenai Hari Kiamat (Yaumul Qiyamah)—hari ketika setiap jiwa harus mempertanggungjawabkan segala yang telah diamalkannya di muka bumi.

Hari Pertanggungjawaban: Antara Sengsara dan Bahagia

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ ۝١٠٥
“Di hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang sengsara (syaqiyy) dan ada yang bahagia (sa‘id).” (QS. Hud: 105)

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Membedah Risalah Surah Yunus: Kebijaksanaan Ilahi, Keagungan Al-Qur'an, dan Hakikat Khasyiyah

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Surat Yunus

Pendahuluan: Karakteristik dan Periodisasi Surah Yunus

Al-Qur'an merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan secara berangsur-angsur (tanjil), di mana susunan urutan surah dalam mushaf bersifat tauqifi (ketetapan langsung dari Allah dan Rasul-Nya) dan tidak selalu sejajar dengan kronologi historis turunnya ayat (asbab an-nuzul).

Surah Yunus, yang menempati urutan ke-10 dalam susunan Mushaf Usmani, secara mayoritas dikategorikan sebagai surah Makkiyyah—yakni kelompok surah yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Ciri mendasar dari kelompok surah Makkiyyah adalah fokus pembahasannya yang menitikberatkan pada pengokohan pilar-pilar akidah (ushul ad-din), penanaman keimanan kepada Allah SWT, pembuktian kebenaran risalah kenabian, serta kepastian hari kebangkitan (al-ba'th).

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Menuang Kebaikan dari Sesuap Nasi hingga Cahaya Ilmu

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At-Taubah  121-122

Sering kali kita membayangkan kebaikan atau perjuangan (jihad) dalam Islam sebagai sesuatu yang amat megah, kolosal, dan sulit dicapai oleh orang biasa. Padahal, jika kita menyelami petunjuk Al-Qur'an—khususnya pada Surah At-Taubah ayat 121–122—Allah justru mengetuk hati kita melalui hal-hal yang begitu dekat dengan keseharian.

Sesuap Nasi yang Menghadirkan Kepedulian Langit

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 121:

وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 121)

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Hikmah di Balik Tidak Semua Orang Boleh Berperang: Membangun Kekuatan Ilmu dan Ketakwaan

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At-Taubah 122

Ayat ini menjelaskan tentang pembagian tugas dalam masyarakat Islam, di mana tidak semua orang harus terlibat langsung dalam peperangan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ ۝١٢٢
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. QS At-Taubah: 122)

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Menyingkap Tabir Kemunafikan, Pelajaran Dari Surat al-Taubah 101-107

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil 2 Februari 2025

Al-Qur'an, kalamullah yang abadi, senantiasa membuka lembaran-lembaran hikmah bagi setiap insan yang merenunginya. Dalam Surah At-Taubah, khususnya ayat 101 hingga 107, kita disuguhkan potret jujur tentang hakikat kemunafikan dan kemurahan Allah dalam menerima tobat. Ayat-ayat ini, bagaikan cermin, memantulkan ragam karakter manusia dan konsekuensi pilihan-pilihan hidup mereka.

Menyelami Kedalaman Kemunafikan: Teguran Ilahi untuk Hati yang Membatu

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًا ۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُۗ وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ۝١٠٧
"Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (QS. At-Taubah: 101)

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Iman yang Tumbuh Bersama Al-Qur'an: Pelajaran dari Respons Mukmin dan Munafik

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Surat at-Taubah 124

وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖٓ اِيْمَانًاۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ ۝١٢٤
Apabila diturunkan suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun (bagi) orang-orang yang beriman, (surah yang turun) ini pasti menambah imannya dan mereka merasa gembira.

Ayat di atas menggambarkan reaksi yang berbeda terhadap turunnya surah Al-Qur'an antara orang-orang munafik dan orang-orang beriman. Untuk memahami konteksnya, mari kita telaah lebih dalam.

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Luasnya Makna Jihad dan Pentingnya Niat dalam Islam

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein ibn Alwy Bin Agil 11 Mei 2025: Bagian Pertama

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ۝١١٩
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!

Ayat ini termasuk ayat Madaniyah karena diawali dengan kalimat

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا

yang merupakan ciri khas ayat-ayat Madaniyah.

Perintah Allah kepada orang-orang beriman, khususnya penduduk Madinah, untuk bertakwa. Salah satu tafsir dari kalimat "at-taqwa" sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,

"Attaqwa Haahuna"

Takwa itu di sini (yaitu di dalam hati)

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Jejak Kebaikan yang Tak Pernah Sia-Sia: Tafsir Mendalam Ayat tentang Infak dan Perjalanan Hidup

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At-Taubah 121

Dalam jihad fi sabilillah, peran serta orang yang berinfaq dan bershadaqah meski sangat sedikit sangatlah penting dan berharga dihadapan Allah. Allah tegaskan:

وَلَا يُنْفِقُوْنَ نَفَقَةً صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً وَّلَا يَقْطَعُوْنَ وَادِيًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٢١
Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. At-Taubah: 121)

Ayat yang agung ini, bagaikan lukisan indah tentang kemurahan Allah dan keadilan-Nya, menyingkap tabir bahwa setiap gerak dan gerik, setiap tetes peluh dan curahan harta di jalan kebaikan, sekecil apapun, tidak akan pernah luput dari catatan Sang Maha Pencatat.

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Ciri-Ciri Orang Munafik: Sebuah Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein ibn Alwy Binagil: Surat Taubah ayat 125-127

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ ۝١٢٥
Adapun (bagi) orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, (surah yang turun ini) akan menambah kekufuran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.

Ayat ini secara jelas menggambarkan kondisi orang-orang yang hatinya bermasalah, atau dalam konteks agama disebut kemunafikan. Ini berarti keyakinan dan akidah mereka cacat. Ada kemunafikan dan keragu-raguan dalam meyakini kebenaran agama Allah. Ketika sebuah surah diturunkan, alih-alih mendapatkan petunjuk, mereka justru bertambah kemunafikannya dan kekafirannya semakin menjadi-jadi. Akibatnya, hati mereka semakin kotor dan sesat, yang pada akhirnya akan menyebabkan mereka meninggal dunia dalam keadaan kafir.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tidak pernah meninggalkan dunia fana ini kecuali dengan membawa keimanan. Jabatan, status sosial, atau kekayaan tidak akan dituntut di akhirat. Yang dituntut hanyalah satu hal: status diri sebagai seorang muslim yang teguh. Sebagaimana firman Allah,

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Sikap Tegas Adalah Cermin Ketakwaan Kepada Allah

Kajian Shafwat Tafasir bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil Ahad 25 Mei 2025

Surat At-Taubah ayat 123 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ۝١٢٣
Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Merenungi Hikmah di Balik Bangunan dan Ketaatan

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 9 Februari 2025: Tafsir At-Taubah 109-111

Menyelami samudra makna Surah At-Taubah, khususnya ayat 109 hingga 111, dengan sentuhan pemahaman yang membuka cakrawala pemikiran kita, menyingkap lapisan-lapisan hikmah yang tersembunyi di balik untaian firman Allah SWT.

Ayat 109

اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۝١٠٩​
Maka, apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan rida(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di sisi tepian jurang yang nyaris runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Larangan Meninggalkan Rasulullah dalam Perang: Sebuah Pelajaran Berharga

Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil: Tafsir At Taubah 120

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ الْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَن رَّسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ۚ
Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah (berperang), dan tidak (pula) mencintai diri mereka sendiri melebihi cintanya kepada diri Rasulullah. (QS. At-Taubah: 120)

Ayat ini merupakan teguran keras dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui (A'rab) di sekitar mereka yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk.

Selengkapnya ➔

/artikel/shafwat_tafasir

Merenungi Ampunan di Balik Kesulitan: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 117-118 dalam Cahaya Istighfar

Ringkasan Kajian Shafwat Tafasir Bersama Habib Husein bin Alwy bin Agil 4 Mei 2025: Tafsir At-Taubah 117-118

Ayat 117 dan 118 dari Surah At-Taubah menghadirkan lukisan agung tentang rahmat dan kasih sayang Allah Swt., terutama dalam konteks kesulitan dan ujian yang dihadapi oleh kaum Muslimin di masa Rasulullah Saw. Lebih dari sekadar catatan sejarah, ayat ini menyimpan pelajaran mendalam tentang kekuatan taubat dan istighfar, sebagaimana yang senantiasa ditekankan dalam kajian-kajian hikmah, termasuk yang disampaikan oleh Habib Husein Ibn Alwy Ibn Agil.

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌۙ ۝١١٧
Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah [9]: 117)

Selengkapnya ➔