Menyingkap Kemuliaan Orang Tua Rasulullah

Kajian Dakhair Muhammadiyah Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, setiap awal bulan di Pesantren Dzinnuha
Perdebatan teologis seputar status keimanan dan keselamatan kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yaitu Sy. Abdullah dan Aminah kerap menjadi diskursus yang mendalam di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Sebagian pihak berpendapat bahwa mereka termasuk ahlu fatrah yang meninggal dalam masa kevakuman kenabian dan dikaitkan dengan narasi azab. Namun, pandangan ini mendapat sanggahan yang sangat telak dari para ulama muhaqqiqin (otoritatif), yang menegaskan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW berada dalam kemuliaan dan keselamatan mutlak.
Mengapa Pendapat Mulla Ali Al-Qari Tertolak?
Mulla Ali Al-Qari dalam sebagian karyanya sempat condong pada pendapat yang menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi SAW termasuk golongan yang tidak selamat (berada di fatrah yang diazab), mengikuti sebagian ulama yang terpaku pada dzahir riwayat tertentu.
Namun, pandangan ini ditolak secara tegas oleh para ulama besar berbasis argumentasi ushul fiqh, tarikh (sejarah), dan akidah Ahlussunnah. Penolakan tersebut didasarkan pada beberapa prinsip fundamental:
-
Kemuliaan Nasab Nabi (Ash-Shana'ah Al-Muhammadiyah): Allah SWT menjaga nasab Nabi Muhammad SAW dari segala bentuk kekafiran dan kenajisan syirik. Garis keturunan beliau adalah garis keturunan para muwahhidin (orang-orang yang mengesakan Allah) dari Nabi Adam AS hingga Sayyidah Aminah. Hal ini tercermin dalam surat as Syuara 219
Dan perpindahan nutfahmu ada diantara orang-orang yang bersujud.
-
Derajat Ahlu Fatrah yang Belum Sampai Dakwah Murni: Bahkan jika mereka dikategorikan sebagai ahlu fatrah, jumhur ulama ahli akidah (seperti Al-Asy'ari dan Al-Maturidi) sepakat bahwa ahlu fatrah yang tidak pernah mendengar dakwah tauhid yang murni selamat dari siksa akhirat, karena tidak ada siksaan sebelum datangnya rasul (la 'adzaba hatta yab'atsa rasula).
-
Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliki menegaskan bila kita memahami beberapa ayat dalam Quran, kita akan memahami ada perbedaan yang sangat mencolok diantara anak yang lahir dari orang tua yang shalih dan anak yang lahir dari orang tua yang fasiq. Anak orang yang shalih tentu akan termotifasi untuk mengikuti jejak baik dari orang tuanya. Perhatikan surat Maryam ayat 28 dibawah ini;
يٰٓاُخْتَ هٰرُوْنَ مَا كَانَ اَبُوْكِ امْرَاَ سَوْءٍ وَّمَا كَانَتْ اُمُّكِ بَغِيًّاۖ ٢٨
Wahai saudara perempuan Harun (sy. Maryam), ayahmu bukan seorang yang berperangai buruk dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.
Ayat ini turun sebagai salah satu bentuk argumentasi bahwa Sy. Maryam tidak mungkin berzina karena kedua orang tuanya adalah orang yang baik dan shalih. Maka begitu pulalah Allah memastikan kedua orang tua Nabi Muhammad adalah sosok yang beriman dengan disebut sajidin sebagai bukti tidak mungkin Nabi lahir dari orang yang mengufuri Allah.
Tiga Risalah Emas Imam Al-Suyuthi dalam Membela Orang Tua Nabi
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi menulis tidak kurang dari enam risalah khusus untuk mengupas masalah ini, di mana tiga di antaranya menjadi rujukan paling otoritatif dalam membela keselamatan orang tua Nabi SAW:
-
Masalik al-Hunafa fi Abawai al-Musthafa: Risalah sistematis yang memuat dalil-dalil akal dan naqli bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Nabi SAW sehingga mereka beriman kepada beliau, sebagaimana disabdakan dalam beberapa hadis tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Nabi lalu mereka masuk Islam.
-
At-Ta'dzim wa al-Minnah fi Walidai al-Jannah: Kitab yang mengkhususkan pembahasan bahwa ayah dan bunda Rasulullah SAW dijamin berada di dalam surga.
-
Tanwir al-Halak fi Ru'yat al-Abawai al-Malak: Membahas kemuliaan khusus yang dianugerahkan kepada keluarga Nabi.
Imam Al-Suyuthi menegaskan bahwa hadis-hadis yang menyiratkan azab bagi orang tua Nabi telah dimansukh (dihapus hukum/ketentuannya) atau merupakan hadis yang kedudukannya diperselisihkan, sementara hadis yang mengonfirmasi keselamatan dan dihidupkannya mereka jauh lebih kuat secara substansi kehormatan kenabian.
Penjelasan Komprehensif Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Sebagai ulama besar abad modern asal Makkah, Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Madza fi Rujab dan berbagai ceramah ilmiahnya menegaskan kembali akidah Ahlussunnah bahwa kedua orang tua Nabi SAW adalah Naji-in (orang-orang yang selamat).
Beliau menekankan beberapa poin penting:
-
Kehormatan Mutlak Rasulullah SAW: Menyakiti hati Nabi SAW sama dengan menyakiti Allah SWT. Menuduh orang tua beliau berada dalam azab neraka adalah bentuk kelancangan teologis yang menyakiti perasaan Rasulullah SAW. Allah SWT tidak mungkin menghinakan kekasih-Nya (Habibullah) dengan membiarkan orang tua beliau disiksa.
-
Derajat Tauhid Ahlul Fatrah: Datuk-datuk Nabi SAW seperti Abdul Muththalib, Hasyim, dan Abdullah adalah pengikut ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS (Hanif). Mereka tidak pernah bersujud kepada berhala secara hakikat keyakinan tauhid murni warisan Ibrahim.
Kesimpulan
Kajian Dakhair Muhammadiyah menegaskan bahwa posisi teologis yang paling selamat, mulia, dan sesuai dengan prinsip penghormatan kepada Rasulullah SAW adalah meyakini keselamatan ayah dan bunda beliau, Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah binti Wahab. Sanggahan terhadap pandangan Mulla Ali Al-Qari yang keliru diperkuat oleh argumen ilmiah dari risalah-risalah Imam Al-Suyuthi dan penjelasan tuntas Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, yang menutup pintu bagi klaim-klaim diskriminatif terhadap kemuliaan keluarga besar Nabi Muhammad SAW.
video kajian terkait: https://www.youtube.com/watch?v=Z82O9o5yGTk
Artikel Keislaman