Shafwat Tafasir


Edit

📄

Menakar Kualitas Iman dan Menyelami Hakikat Ulama Sejati: Sebuah Ibrah dari Kisah Thalut dan Abu Dahdah

 

Kajian Sofwat Tafasir Surat Baqarah Ayat 249 Bersama Habib Husein Ibn Alwy Binagil, 9 April 2017

Bismillahirrahmanirrahim.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢ بِيَدِهٖۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ۝٢٤٩

Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar.

Keimanan itu menuntut sebuah konsekuensi. Seseorang yang bersaksi bahwa dirinya beriman, niscaya akan dihadapkan pada ujian demi ujian untuk membuktikan sejauh mana kejujuran syahadatnya. Menengok kembali lembaran sejarah Bani Israil dalam Surat Al-Baqarah, kita dihadapkan pada sebuah potret epik tentang Raja Thalut,seorang pemimpin yang ditunjuk langsung oleh Allah yang memimpin 80.000 pasukan tempur.

Tatkala mereka keluar meninggalkan Baitul Maqdis menembus padang sahara yang tandus nan terik, dahaga yang amat sangat mencekik kerongkongan mereka. Di saat itulah, ujian itu diturunkan. Thalut menyampaikan titah dari langit, "Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Barangsiapa yang minum airnya, maka ia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa yang tidak merasakannya, kecuali meraup secanting air dengan tangannya, maka ia adalah pengikutku."

Sungai Syariah yang membelah Yordania dan Palestina itu menjadi saksi bisu betapa rapuhnya komitmen manusia. Di tengah kepanasan, air sungai itu seakan melambai-lambai, mengundang syahwat. Begitu pula realitas kehidupan kita hari ini. Sungai itu adalah metafora dari kemilau duniawi. Berapa banyak orang yang lantang meneriakkan komitmen perjuangan Islam, namun begitu melihat "lembaran rupiah merah" (halawah hamra), mereka lupa pada baiatnya? Mereka lari berhamburan, menceburkan diri, bahkan selulup dalam nikmat sesaat. Dari 80.000 laskar, 76.000 orang gugur dalam ujian syahwat perut. Hanya tersisa 4.000 orang yang benar-benar memegang teguh ketaatan.

Hakikat Manusia dan Ulama Sejati

Kualitas kemanusiaan itu tidak diukur dari casing luar. Muka boleh sama, kopiah sama, bentuk dada sama, namun hati dan isinya jauh berbeda. Di saat 4.000 orang yang tersisa melihat balatentara musuh di bawah pimpinan Jalut yang terlatih dan jumlahnya berlipat-lipat ganda, gentarlah sebagian dari mereka. Mereka berkata, "Hari ini kita tidak punya kemampuan untuk melawan Jalut dan bala tentaranya." 

Namun, perhatikanlah golongan Ash-Shafwah, hamba-hamba pilihan, ulama-ulama al-abrar yang sejalan antara ilmu dan amal perbuatannya. Mereka yang punya keyakinan kuat akan hari perjumpaan dengan Tuhannya berkata dengan lantang: "Berapa banyak kelompok yang kecil mampu mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah? Dan Allah bersama orang-orang yang sabar." 

Inilah poin penting yang harus kita sadari hari ini. Kita tidak butuh "islamologi"—orang yang ahli teori keislaman, pintar merangkai kata, pandai membaca kitab, menyandang gelar mentereng, namun buta dalam pengamalan. Kita tidak butuh orang berilmu namun perutnya terbiasa diisi dengan barang syubhat dan haram, sehingga mereka tak segan menjual agamanya atau membela para penista agama.

Ulama sejati adalah ulama klasik yang walau hanya tahu satu huruf, ia amalkan dengan segenap jiwa raga. Akhlaknya memancarkan Al-Qur'an. Jika tidak ada kriteria itu, mereka bukanlah ulama, melainkan "ngelama"—manusia-manusia yang kurang ajar terhadap ajaran agamanya sendiri.

Doa sebagai Senjata dan Guyuran Kesabaran

Ketika berhadapan face to face dengan kematian, para pejuang itu memanjatkan doa yang mengguncang arasy: "Rabbana afrigh 'alaina shabran, wa tsabbit aqdamana, wanshurna 'alal qaumil kafirin." (Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir). 

Kalimat "Afrigh 'alaina shabran" menyimpan rahasia balaghah yang indah. Mereka mengibaratkan kesabaran seperti air segar yang dituang mengguyur seluruh tubuh yang sedang kepanasan, meresap hingga ke sanubari, menghadirkan kesejukan, kedamaian (hudhu'), dan ketenangan batin dalam menghadapi kepungan musuh. Dari ketenangan hati inilah muncul siasat, keberanian, dan pada akhirnya, kemenangan. Lewat tangan seorang pemuda beralas kaki bernama Daud 'alaihissalam, kesombongan Jalut tumbang.

"Menghutangi" Allah: Kisah Kedermawanan Abu Dahdah

Selain keteguhan hati di medan juang, Allah juga menguji hamba-Nya di medan harta. Al-Qur'an menggunakan bahasa yang sangat indah untuk memotivasi sedekah:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةًۗ وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝٢٤٥

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki. KepadaNya lah kamu dikembalikan."

Maha Suci Allah dari segala kebutuhan. Lalu mengapa Allah memakai redaksi "meminjam"? Ini adalah dorongan (targhib) yang luar biasa agar kita gemar bersedekah. Membantu orang kelaparan, kehausan, dan menjenguk orang sakit hakikatnya adalah bermuamalah dengan Allah SWT.  Ketika ayat ini turun, sahabat Abu Dahdah mendatangi Rasulullah dan bertanya, "Ya Rasulullah, benarkah Allah menginginkan pinjaman dari kita?" Ketika Nabi membenarkannya, Abu Dahdah langsung berkata, "Saksikanlah, kebunku telah aku pinjamkan kepada Tuhanku!"

Padahal kebun itu berisi 600 pohon kurma siap panen, dan di situlah tempat tinggal istri dan anak-anaknya. Abu Dahdah pulang, memanggil sang istri dari luar pagar, "Wahai Ummu Dahdah, keluarlah! Kebun ini telah aku hutangkan kepada Allah Azza wa Jalla."

Bagaimana respons sang istri? Apakah ia mencaci maki dan menuduh suaminya gila karena "menggadaikan" rumah mereka? Tidak. Ummu Dahdah menjawab dengan senyum keimanan, "Sungguh beruntung transaksimu, wahai Abu Dahdah!" Lalu ia membawa anak-anaknya keluar, meninggalkan kebun itu dengan hati lapang.

Saudaraku, mari kita bermuhasabah. Masih adakah keteguhan bak 4.000 pasukan Thalut di dada kita? Masih adakah kerelaan dan sinergi amal saleh antara suami-istri setingkat Abu Dahdah dan Ummu Dahdah di dalam rumah tangga kita?

Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan ayat-ayat Allah yang diwahyukan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai pedoman bagi kita. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang barokah, yang dengannya keimanan dan ketakwaan kita hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin, mengantarkan kita pada keselamatan dan kejayaan, di dunia hingga di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal 'Alamin.