Shafwat Tafasir


Edit

Menimbang Keadilan dan Rahmat Allah di Hari Perhitungan

Rangkuman Kajian Sofwat Tafasir Surat Hud rumpun ayat 105-113 Bersama Habib Husain Ibn Alwy Binagil

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Asyrafil Anbiya’i wal Mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Membaca Al-Qur'an adalah sebuah perjalanan menelusuri keindahan hikmah Ilahi. Ketika kita sampai pada Surah Hud ayat 105 hingga 113, kita dihadapkan pada gambaran yang sangat menggetarkan jiwa mengenai Hari Kiamat (Yaumul Qiyamah)—hari ketika setiap jiwa harus mempertanggungjawabkan segala yang telah diamalkannya di muka bumi.

Hari Pertanggungjawaban: Antara Sengsara dan Bahagia

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ ۝١٠٥
“Di hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang sengsara (syaqiyy) dan ada yang bahagia (sa‘id).” (QS. Hud: 105)

Pada hari yang sangat dahsyat tersebut, hilanglah segala kesombongan. Tidak ada satu ucapan pun yang meluncur dari lidah manusia tanpa izin dari Allah. Manusia pada hari itu pada hakikatnya terbagi menjadi dua kelompok besar:

  1. Kelompok yang Sengsara (Asy-Syaqiyyun): Mereka yang gagal meraih keridaan Allah akibat perbuatan maksiat, kesyirikan, dan kedzaliman selama hidup di dunia.
  2. Kelompok yang Bahagia (As-Su‘ada’): Mereka yang berhasil memelihara keimanannya dan senantiasa menanam benih-benih kebaikan.

Penderitaan Penghuni Neraka dan Makna Penyelamatan

Bagi kelompok yang celaka, Al-Qur'an menggambarkan penderitaan mereka dengan ungkapan yang sangat menyentuh emosi: zafir dan syahiq.

Para ulama tafsir—seperti Imam At-Thabari dan Qatadah—menjelaskan bahwa zafir adalah suara desahan napas yang keluar akibat himpitan dada yang luar biasa, sedangkan syahiq adalah tarikan napas dalam-dalam karena rasa sakit yang tak terperikan. Ini adalah cerminan dari tekanan kejiwaan dan jasmani yang dialami penghuni neraka.

Namun, di tengah gambaran yang menakutkan tersebut, Al-Qur'an meletakkan frasa pengecualian:

اِلَّا مَا شَاۤءَ رَبُّكَۗ اِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُ ۝١٠٧
“...kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107)

Di sinilah letak Rahmat Allah SWT. Mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah meyakini bahwa orang-orang beriman yang pernah berbuat dosa (ahli tauhid yang berdosa) tidak akan kekal di dalam neraka. Keberadaan mereka di sana bukanlah bentuk pembalasan dendam Ilahi, melainkan proses penyucian (tathhir) atas kotoran dosa yang melekat.

Setelah dibersihkan—serta melalui syafaat Rasulullah SAW—mereka akan diangkat dan dimasukkan ke dalam surga. Bahkan, Rasulullah SAW pernah tersenyum bahagia saat menceritakan kisah hamba terakhir yang dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, betapa ia merasa menjadi manusia yang paling beruntung karena luasnya ampunan Allah.

Kebahagiaan Abadi Penghuni Surga

Sebaliknya, bagi orang-orang yang berbahagia (as-su'ada'), Allah menjanjikan balasan berupa surga yang abadi. Karunia yang diberikan kepada mereka adalah karunia yang tidak pernah terputus ('atha'an ghaira majdzudz).

Di dalam surga, kepastian abadi itu disimbolkan dalam sebuah hadis dengan "disembelihnya kematian". Artinya, tidak ada lagi kekhawatiran akan hilangnya kenikmatan atau berahirnya kebahagiaan.

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya.” (QS. Hud: 108)

Para mufasir memberikan rincian yang sangat indah terkait ayat ini:

  • Keabadian Mutlak: Orang-orang saleh (al-sual'ada' al-abrar) akan tinggal secara permanen di dalam surga dan tidak akan pernah dikeluarkan darinya selama-lamanya (la yakhrujuna minha abadan).

  • Langit dan Bumi Surga: Frasa “selama ada langit dan bumi” merujuk pada keabadian langit dan bumi akhirat/surga (samawatul jannah wa ardhuha) yang memang diciptakan abadi oleh Allah SWT.

  • Makna ‘Athâ'an Ghaira Majdzûdh: Allah melimpahkan anugerah yang ghairu maqthu'—karunia yang mengalir terus-menerus, bersambung tanpa akhir, dan tidak akan pernah terputus sedikit pun.

Bahaya Taqlid, Hiburan bagi Rasul (Tasliyah), dan Kepastian Balasan

Selanjutnya, Al-Qur'an memberikan peringatan tegas terkait akidah dan kekufuran:

“Maka janganlah engkau (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang mereka sembah...” (QS. Hud: 109)

Melalui ayat ini, para ulama tafsir menekankan beberapa poin mendasar:

  • Tercelanya Taqlid (Ikut-Ikutan Tanpa Alasan): Orang-orang musyrik menyembah berhala semata-mata karena mengekor kepada nenek moyang mereka (ittiba'an lil-aba'i taqlidan) tanpa memiliki pijakan hukum, argumen, maupun bukti rasional (min ghairi hujjah wa la burhan). Agama tidak boleh didasarkan pada prasangka atau taklid buta.

  • Penghibur Hati Nabi (Tasliyah): Penjelasan ini berfungsi sebagai penghibur hati Rasulullah SAW. Allah menegaskan bahwa ketegaran dan penolakan kaum musyrikin saat itu tidak berbeda dengan perilaku generasi penentang terdahulu.

  • Balasan Sempurna (Ghairu Manqûsh): Allah menegaskan firman-Nya, “Kami pasti akan menyempurnakan bagian (balasan) mereka tanpa dikurangi sedikit pun.” Ibnu Abbas menjelaskan bahwa nasibahum adalah kadar kebaikan maupun keburukan yang telah ditetapkan bagi mereka. Balasan azab bagi para penentang kebenaran akan ditunaikan secara utuh dan sempurna.

  • Pelajaran dari Kitab Nabi Musa: Disinggungnya Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS—yang kemudian perselisihkan oleh kaumnya—menjadi iktibar bahwa penolakan terhadap kebenaran wahyu adalah fenomena berulang dalam sejarah manusia.

Keteguhan Akidah dan Menjauhi Kedzaliman

Memahami hakikat akhirat ini mengantarkan kita pada tiga keteguhan sikap dalam hidup beragama:

a. Kepastian Kebenaran Islam

Al-Qur'an mengingatkan agar kita tidak ragu terhadap kebatilan sembahan atau jalan hidup orang-orang yang menyimpang dari tauhid. Menghargai keragaman sosial adalah satu hal, tetapi mengaburkan batasan akidah dengan menganggap "semua agama sama" adalah hal lain yang tidak sejalan dengan tuntunan Al-Qur'an. Kebaikan sosial orang-orang kafir tentu dihargai oleh Allah (misalnya dengan diringankannya sakaratul maut atau balasan kebaikan di dunia), namun keselamatan akhirat tetap mensyaratkan iman dan tauhid.

b. Perintah untuk Istiqamah

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang bertobat bersamanya:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu...” (QS. Hud: 112)

Perintah istiqamah ini sangat berat, bahkan diriwayatkan menjadi salah satu sebab tumbuhnya uban di pelipis Rasulullah SAW. Istiqamah menuntut konsistensi dalam menjalankan perintah dan tidak melampaui batas (la tathghau).

c. Menjauhi Ketergantungan pada Penguasa Zalim

Salah satu peringatan paling tajam dalam rangkaian ayat ini terdapat pada surah Hud ayat 113:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ۝١١٣
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka...” (QS. Hud: 113)

Imam Al-Baidhawi menjelaskan bahwa kata ar-rukun berarti kecenderungan hati yang sedikit sekalipun. Jika sekadar memberikan simpati atau cenderung sedikit saja kepada orang zalim—seperti para pemimpin yang fasik dan melampiaskan hawa nafsunya—sudah diancam dengan api neraka, lantas bagaimana dengan mereka yang terang-terangan mendukung, membela, dan memperkuat kedzaliman tersebut?

Penutup

Rangkaian ayat ini mengajarkan kita untuk senantiasa memperhalus rasa keimanan dan introspeksi diri. Kita diajak untuk menata arah hidup: menegakkan istiqamah, menjaga kesucian akidah, serta tidak melangkah bersama kedzaliman. Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia (as-su‘ada’) di dunia hingga di akhirat kelak.

Wa Allahu A'lam bi ash-Shawab.